Rain Perspective

Image

Lagi-lagi aku menemukan diriku sedang bersyukur menatap hujan di sore hari sambil menyenandungkan lagu “Kidung” karya Chris Manusama. Aku melihat keluar dari kamarku, terlihat anak-anak sedang bersenda gurau, bermain, berteriak-teriak di bawah guyuran hujan deras yang mampir sore ini. Betapa gembiranya mereka bermain di bawah hujan ini pikirku, sementara aku setengah gembira, tapi setengah dari pikiranku lagi khawatir, karena 30 menit dari sekarang aku harus berada di tempat lain, yang jaraknya hanya 10 menit dari tempatku menyewa kamar. Biar jaraknya hanya 10 menit, aku yakin begitu sampai di tempat itu aku akan menemukan diriku basah kuyub di guyur hujan deras ini.

Di tengah kekhawatiranku muncul rasa untuk bersungut kepada TUhan karena hujan yang seperti ini, sudah 3 jam hujan di sini tidak berhenti, dan terus mengguyur dengan deras membuatku tidak bisa, melakukan apa-apa di luar sana kecuali bermain air.

Tapi di tengah kekhawatiranku itu aku terus bernyanyi Kidung yang berisi :

Tak selamanya, mendung itu kelabu, nyatanya, hari ini, ku lihat, begitu ceria.

Hutan dan rimba, turut bernyanyi juga, membuat hari ini, bersemi, dunia penuh damai.

Reff : Bintang berkelip, dengan jenaka, seakan tahu, hati dan rasa..

oh, kidung yang indah, kau luputkan aku, dari sebuah dosaku.

Dosaku di sana untukku adalah dosa untuk bersungut, mengutuki hujan yang di berikan Tuhan kepada seluruh umat manusia di bandung, tidak terkecuali aku.

Aku melihat anak-anak di luar sana terus bermain, bersenda gurau, lalu aku menyadari satu hal, bahwa yang ku butuhkan hanyalah merubah pola pandangku tentang hujan.

Seperti halnya anak-anak di luar sana yang sedang bermain hujan. Tidak! ini bukan soal air yang turun dari atas sana mengguyur yang ada di bawahnya. Ini tentang pola pandangku, pola pandang manusia.

Manusia mengatakan pada dirinya jika hujan sangat deras, apa lagi hujan angin, aku lebih baik tidak ke mana-mana, kecuali aku ingin kebasahan, atau jika hujan sangat deras seperti ini akan mengakibatkan banjir. Maka aku ingin mengatakan pada diriku, aku harus memakai jas hujanku dan pergi keluar sana untuk menyelesaikan tanggung jawabku di tempat lain. Ngomong soal banjir, itu soal lain, disaat hujan aku pernah dengan bahagia membetulkan loteng rumah, mencuci motorku, mengepel rumah, membersihakan WC, aku kira itu tidak ada bedanya saat hujan lalu membersihkan selokan di depan rumah yang juga sudah pernah aku lakukan (walaupun aku harus mengingatkannya pada diriku untuk tidak melakukan itu lagi, karena hal itu menjijikan).

Di sini masalahnya bukan hujan, tapi perspektif, pola pandang kita terhadap suatu hal, apakah hal tersebut masalah atau bukan. Masalah akan jadi masalah, saat kita menyatakan pada hal tersebut bahwa si hal itu adalah masalah!

Ya! Maka aku katakan pada diriku, mari jadi anak kecil, menganggap hujan bukan masalah. Aku pernah melwati berbagai hal dengan riang bersama hujan, salah satunye membetulkan genteng rumah yang bocor saat hujan. =D

AKu kenakan jas hujanku (walau aku tahu, hujan sederas ini pasti akan membasahi baju dan jaket yang aku pakai di bawah jas hujan ini), lalu aku menyalakan motorku, mengirim pesan singkat pada temanku, “aku otw sekarang”, sambil mengendarai motor di jalan yang sepi karena hujan, di mana mobil pun bahkan memilih untuk tidak berada di jalanan saat ini, karena takut ada genangan air atau banjir, aku di atas motorku bernyanyi “kidung” dengan menikmati guyuran hujan di jalan menuju tempat yang ku tuju. Dan aku bilang, itu adalah momen hujan yang paling menyenangkan bagiku, mengalahkan momen hujan saat aku membetulkan genteng yang bocor di saat hujan angin.

Hujan terus turun seperti ini selama seminggu lebih, deras, berangin, bertahan selama 3-4 jam, dan aku menemukan diriku tidak bersungut-sungut seminggu ini karena hujan, walaupun hampir itu terjadi kalau bukan karena lagu kidung dan anak-anak.

Tuhan, terimakasih untuk hujan yang kau berikan bagi kota Bandung ini… Sungguh mengaggumkan, bagiku, hujan yang Kau berikan ini sangat menyenangkan! Sungguh! Tambah hari aku tambah mengagumi dan mencintai karya tanganMu!

Advertisements
Categories: The Writting | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: