3rd Psalm

Duduk di depan komputer di IFI pada sore hari, bersyukur kepada TUhan, dan menuliskan ucapan syukurku untukNya.
Memperhatikan sekelilingku begitu tenang di dalam perpustakaan IFI, melihat langit kelabu lewat jendela IFI,
dedaunan yang di basahi hujan yang sempat mampir di tempat ini, dan aku mengucapkan syukur sekali lagi padaNya,karena aku dapat menikmati kebaikannya di sore ini, aku dapat melihat bagaimana besar dan ajaibnya TUhanku lewat langit di atasku.
Tidak dapat ku lukiskan indahnya langit kelabu pada saat ini, tidak lewat foto, tidak lewat lukisan, bahkan lewat tulisan yang ku tulis ini.
Tidak ada satupun seniman, ilmuan atau seseorangpun di bumi ini yang dapat membuat karya seindah karya TUhan yang kulihat setiap hari.
Aku hanya bisa melihat keluar jendela IFI saat ini, memandang ke atas langit dan bilang “Keren!”
Karena tidak bisa ku lukiskan lagi dengan kata pujian manapun bahkan kata-kata keren yang ku tulis untukNya pun sebenarnya tidak dapat mewakili keindahan langit yang kulihat saat ini.

Banyak orang mengatakan bahwa langit biru adalah langit cerah. Tapi bagiku, apapun warna langit di atasku, biru, kelabu, orange, keemasan, biru tua yang gelap, semuanya adalah hari yang cerah bagiku, karena toh matahari tetap bersinar untuk bumi ini dan aku di balik langit berwarna apapun.

Begitu juga dengan kehidupanku, dalam keadaan apapun, biru, kelabu, orange, keemasan, atau biru tua yang gelap, tidak ada alasan bagiku untuk tidak mengucap syukur pada Tuhan. Karena dalam keadaan apapun Tuhan tetap bersinar bagiku, dan tidak pernah meninggalakanku dalam satu detikpun. Dia bahakan akan tahu berapa banyak nafas yang ku ambil dan ku buang dalam sehari. Tidak perduli apa yang sedang ada di hadapanku Dia selalu bersamaku, melindungiku, menolongku di saat aku membutuhkannya, terus memegang tanganku, menghiburku di saat aku sedih, memberikan semua yang aku butuhkan tepat pada waktunya. Kasihnya bagiku terus bersinar, Dia yang menyelamatkan hidupku setia hari, yang membuat aku terus bernafas hingga saat ini. Itulah buktinya bahwa Tuhan adalah pahlawanku, sebab, jika satu detik saja Dia meninggalkanku, aku bisa jamin bahwa hidupku tidak akan berlanjut ke detik berikutnya. Bukti bahwa dia terus ada untukku, menjadi penyelamatku di setiap saat.
Dan kadang memang harus ada langit berwarna gelap disertai badai, hujan, atau hawa dingin, di tempat di mana kita merasa takut karena gelap, tidak bisa melihat, karena dengan langit seperti itulah kuasa Tuhan nyata dalam hidupku. Justru kalau langit selalu di warnai dengan biru muda yang menyemangati kita, langit keemasan yang mebuat kita lupa diri dan berhenti berjalan sejenak, langit orange yang akan membuat kita bersantai, itu yang akan membuat kita terus berada di zona nyaman merasa kuat, dan melupakan kehadiran Tuhan.
Tapi di saat aku merasa lemah, merasa tak berdaya, aku dapat bersyukur, karena saat itulah kuasa Tuhan nyata di hidupku dan membuatku terus hidup, maka aku dapat terus bersyukur kepadaNya di setiap waktuku, karena aku sadar, bahwa aku selalu membutuhkan terangnya dalam hidupku. “Cukuplah kasih karunia Tuhan bagiku.”

Image

Advertisements
Categories: The Writting | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: